Thursday, August 30, 2007

Hi.. hi...


wahai para wanita engkau selalu dengungkan emansipasi
sesungguhnya kami para lelaki
tak pernah ijinkan engkau melakukan pekerjaan kami
yang memang mestinya itu dilakukan kaum lelaki
selain bersenergi
untuk melakukan apa yang kami para kaum lelaki
tak mampu mensiasati
apapun yang bisa dilakukan oleh para kaum lelaki
dan... lahan tempat kami mencari rezeki
jua sebagian telah engkau renggut dengan mengatasnamakan emansipasi
kini ketika semuanya tak lagi mengabaikan fitrah
Hi.. hi... engkau mengeluh seakan derita tak tertanggung lagi
mencari empati kaum lelaki adalah suatu yang kontradiksi
mungkin kembali ke fitrah tuk menjadi ibu sejati adalah solusi

Cerita Seorang Bapak dengan Anaknya


Oleh: Hedi R

"Aku punya pengalaman lucu, Pak," kata anak sulung saya suatu hari.
"Lucu apanya, nak?" .
"Ini pengalaman batin." Anak saya menimpali.
"Lha iya, apa? Pengalaman batin koq dibilang lucu”, desak saya.

Alkisah, ia pun bercerita tentang seekor anjing kecil yang terkaing-kaing di bawah pohon ketika ia sedang bermain-main di halaman rumah tetangganya. Anjing itu, ketika didekatinya, ternyata luka parah di bagian kaki depannya. Makhluk itu tak mampu berjalan. Anak saya pun membopong dan mengobatinya.

Tak berapa lama, benar Anjing itu sembuh. “Dan aku terkejut Pak”, dia melanjutkan ceritanya, “karena ketika aku mau berangkat sekolah, hewan itu menyambutnya di jalan kecil di dekat pohon tempat ia beberapa hari lalu ditemukan. Dan bukan cuma itu.
Dia nganterin aku sampai di tepi jalan raya tempat aku menunggu kendaraan. Dan ketika aku pulang, dia pun menyambutku. Begitu setiap hari. Subhanallah Pak, dia tahu membalas budi."

"Anjing memang hewan paling setia", anak saya terus bercerita dan tampak diraut wajahnya penuh kekagumam.

Rupanya, batin anak saya tersentuh. Orang tua sering tak tahu, kapan batin anaknya bertambah matang. Sebagai seorang ayah, saya merasa berbahagia mempunyai anak yang mulai dapat membaca alam dan memaknai simbol-simbol halus yang tersirat dalam hidupnya.

Diam-diam anjing itu mengajarinya ilmu filsafat kehidupan yang belum tentu diajarkan guru di sekolahnya. Dan pembicaraan selanjutnya kami membicarakan terus mengenai keadaan pertemanan, tentang tolong-menolong, tentang terima kasih tentang loyalitas, dan lain-lain sekitar filosofi kehidupan. Kami mencoba merumuskan nilai-nilai baru untuk orientasi kehidupan hakiki yang mestinya kita harus jalani.

Sering saya berpikir, mungkin tiap pemimpin mendambakan betapa enaknya jika anak buahnya mempunyai jiwa anjing, yang paham akan arti terima kasih dan loyalitas.

“Betapa enaknya hidup penuh loyalitas seperti anjing itu”, saya melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong lamunan, "Sayang ini cuman sekedar impian muluk", saya bergumam.

"Emangnya kenapa, Pak?", anak saya menimpali keheranan.

Saya pun menjelaskan, “memang di kantor-kantor dalam birokrasi apa pun, dan di mana pun loyalitas tak dikenal. Orang, pegawai, karyawan, pada dasarnya cuma loyal pada duit, dan pada cita-citanya sendiri. Tiap orang sibuk berjuang bagi dirinya sendiri.
Tentu saja ada skenario terselubung, ada kedok, pemanis kata, hiasan bibir, atau gincu-yang disebut ideologi yang menutup secara indah, dan memberi pengesahan moral/spiritual terhadap cita-cita pribadinya agar sepak terjangnya tak kelihatan telanjang.

"Apa keadaan kita seburuk itu?" tanyanya.
"Dalam beberapa hal bahkan lebih buruk."
"Apa bapak kecewa, atau putus asa mengharap orang-orang loyal di kantor?"
"Kecewa ya, tapi putus asa tidak."

“Lagi pula di kantor orang sudah tahu sejak dulu, bahwa loyalitas Bapak tak punya arti apapun bagi kepentingan atasan. Bapak harus loyal pada nilai. Maka, dikotomi yang mengkotak-kotakkan orang menjadi "orangnya si ini", "orangnya si itu" jelas bukan orientasi hidup yang sesuai dengan ideologi Bapak”.

Bagi Bapak, loyal pada nilai itu artinya orang cuma loyal pada kantor, pada tujuan bersama. Orientasi ini harus diperjuangkan dengan biaya sangat mahal. Bapak kira inilah kesejatian hidup di dalam semua organisasi.

"Apa ada orangnya yang bisa mewujudkan gagasan seperti itu?”
“Dan jika mungkin ada, apakah orang-orang sekitarnya menyambut gagasan seperti itu?”

“Bapak tidak tahu!, wong bapakmu ini wong cilik koq alias “wong deso”. Namun, pada awalnya, pada tataran ideal terutama sama-sama di kalangan wong cilik, bukan cuma menyambut tapi bahkan ada yang cepat memuji, bahwa gagasan ini demokratis bernuansa spritual, dan bahwa baru dalam masa seperti itulah suatu pelaku organisasi diajari orientasi yang benar, dan diberi otonomi pada masing-masing pelakunya."

“Jika ada orang yang bisa mewujudkan gagasan seperti itu…!?,”
“Dia pasti orang baik ya pak!?, kata anak saya.

"Mungkin. Tapi mungkin pula penjilat."

"Loh koq begitu? Apa karena berkaitan dengan ketulusan?"

"Tulus itu urusan hati”. Dan menjilat urusan mulut dan lidah”, kita tahu bahwa “lidah orang bilang-tak bertulang."

"Siapa tahu orang yang loyal seperti itu beneran."

“Memang tak mustahil di suatu kantor ada loyalitas tulen. Tapi loyalitas tak bisa ditentukan buru-buru. Kalau orang tampak loyal hanya semasa aktif, saat menjabat, bandit pun bisa lebih dari itu. Maka, tunggulah sampai masa pensiun. Kalau setelah pensiun ia memusuhi atasan, memfitnah, atau menipu, tahulah kita bagaimana status batin manusia jenis ini”
.
“Kita sering lupa, Tuhan menjadikan manusia dalam seindah-indahnya kejadian. Tapi, Tuhan pun maha kuasa bila kita culas, busuk, dan ingkar bagiNYA mudah mengubah status kita menjadi lebih hina dari hewan melata.
Sering saya termangu-mangu membaca firman itu. Dan sering pula saya heran, roda hidup berputar cepat, dan anak saya, tiba-tiba sudah mahasiswa.

"Nak, renungkan terus filsafat anjingmu itu baik-baik. Ia memberi kita renungan, bahwa bila manusia ingin menjadi manusia sejati yang tahu membalas budi, dan memiliki loyalitas maka ia harus gigih belajar dari sesama, juga dari anjing.”

(HED: Cerita ini diilhami dari cerita manusia dan anjing karya MS)

Bumi Semakin Panas


Oleh: Hedi Rachdiana

Bumi semakin panas, pemanasan global, itulah isu yang kita rasakan sekarang ini, dan isu ini sampai kapankah berakhir?. Nyatanya hari demi hari yang dirasakan memang bumi semakin panas. Jam 8 pagi dirasakan panasnya sama dengan jam 12 siang masa dekade 20 tahunan ke belakang. Bahkan di Amerika sana telah disimulasikan oleh komputer, bagaimana jadinya jika pemanasan global ini mampu mencairkan kutub atau benua Antartika, hasilnya permukaan laut akan meninggi sampai 60 meter tingginya, bukankah jika terjadi maka bumi ini menjadi kiamat?.

Bumi semakin panas, persaingan hidup semakin keras. Bahkan setiap orang bak ada di dunia satwa hutan belantara dimana hukum rimba berlaku, si kuat memangsa si lemah demi sekedar mengenyangkan perutnya. Berjuta problema kehidupan membayangi silih berganti, terkadang problem yang satu belum tersolusi, datang pula problem lainnya, hal ini terus bertumpuk dan tak pernah berujung dalam penyelesaian.

Bumi semakin panas, eksploitasi alam terus berlangsung, pemerkosaan hutan, cuaca tak menentu, petani tidak bisa lagi melakukan jadwal tanamnya seperti dulu, banjir, longsor ketika musin hujan, atau kekeringan ketika musim kemarau. Sementara itu, di setiap jalanan atau gang sempit, becek kumuh berjubel ratusan orang dewasa dan anak-anak memenuhi jalanan bak kelinci dikandangnya. Mereka melakukan aktivitas seharian tanpa mengenal waktu berbaur satu sama lain tanpa mengindahkan norma-norma kaedah dalam pergaulannya. Mereka mau jadi apa nantinya?
Benar atau salah, semua permasalahan tersebut tidaklah terlepas dari terlalu banyaknya populasi manusia di bumi ini, lebih-lebih sebagian besar dari mereka itu secara moral tidak berkualitas. Di lain pihak, ada sekelompok orang yang masih menganut paham pepatah “banyak anak banyak rejeki”, sehingga tak mustahil pada zaman yang sudah maju ini masih ada dalam sebuah keluarga dengan jumlah anak belasan orang terutama di pedesaan, tapi tidak sedikit pemahaman “banyak anak banyak rejeki” itu juga dianut oleh mereka yang notabene adalah orang-orang intelek.

Apakah faktor terlalu banyaknya manusia ini berpengaruh terhadap ekosistem alam? Menurut berita yang bersumber dari Kompas Cybermedia, menyebutkan bahwa “Manusia telah merusak Bumi dengan kecepatan yang tidak diduga sebelumnya. Hal ini meningkatkan resiko kerusakan alam yang bisa mengakibatkan munculnya penyakit, kekeringan, atau zona mati di lautan”.

Lebih lanjut Kompas menyebutkan bahwa; “Penelitian yang melibatkan 1.360 ahli dari 95 negara ini menyebutkan naiknya populasi manusia selama 50 tahun terakhir telah meningkatkan pencemaran dan eksploitasi berlebih terhadap dua pertiga sistem ekologi yang menjadi tumpuan kehidupan.

Aktivitas manusia telah merusakkan fungsi alami Bumi dan kemampuan eskosistemnya sehingga barangkali tidak akan ada yang tersisa bagi generasi mendatang. Disebutkan, sepuluh hingga 30 persen mamalia, burung, dan jenis-jenis amfibi telah terancam punah. Ini adalah tanda menurunnya dukungan bagi kehidupan di planet kita.

Selama 50 tahun terakhir, manusia telah mengubah ekosistem secara lebih cepat dan meluas dibanding waktu lain dalam sejarah. Pertumbuhan permintaan makanan, air, kayu, serta bahan bakar belum pernah sebanyak jangka waktu itu. Ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman kehidupan di Bumi”.

Lebih lanjut Kompas Cybermedia menyebutkan, bahwa “dicontohkan, sejak tahun 1945, semakin banyak tanah yang berubah menjadi lahan pertanian atau pemukiman dibandingkan sepanjang abad 18 dan 19”.

Apakah keprihatinan ke depan itu tidak berkepanjangan?. Tengoklah statistik kependudukan yang menyatakan bahwa pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai 9,2 miliar dan penduduk Indonesia 280 juta. Padahal sebagaimana di lansir Kompas Cybermedia tersebut bahwa terlalu banyaknya penduduk itu selain berpengaruh secara revolusioner terhadap faktor ekosistem juga akan mempengaruhi langsung sektor ekonomi dan sosial.

Untuk itu, tidak ada salahnya kita merenung sejenak untuk menyikapi ayat berikut: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS 13:11).

Kita tidak bermuluk-muluk ingin merubah dunia, tapi percayalah kita hidup syarat dengan permasalahan ini justru karena kita hidup di dunia, mau atau tidak kita ada didalamnya.

Tanpa Judul


Ini tentang Kita
Ingin tak bertanya, kenapa
Mengapa mesti bertanya
Kulihat ke kiri dan ke kanan,
ke belakang jua ke depan
Ada sesuatu yang menggugah rasa
Haruskan terpendam rasa tuk bertanya
Walau tlah bertanya, jua
Nyatanya bertanya tak kunjung berbuah asa
Ingin ku tak bertanya
Lalu tak bertanya, memangnya kita kenapa??

Wednesday, August 29, 2007

KENAPA


Aku bukanlah seorang penyair dari kata genre sastra
aku adalah penyair kehidupan
yang kenyang dengan terpaan badai dan topan
yang kenyang dengan pahit asam kehidupan
orang memandangku si lugu hanya pandai memainkan kata

Aku adalah penyair kehidupan
Yang mengungkapkan segala perasaannya lewat puisi
Puisi kehidupan, dari segala asa yang terkubur
Seorang Penyair kehidupan mengungkapkan segala perasaannya dengan puisi
bukan dengan angka kebohongan
bukan dengan rumus yang orang bingung mencernanya
angka dan rumus dimanifulasinya
sekedar berwawansabda kepada dunia dengan kemunafikan

Puisi kehidupanku sebagai ungkapan interaksi batinku yang paling dalam
Dari pandangan inilah segenap rasa dan karsa berhulu
Dari pandangan mata hati yang tidak dilihat orang kebanyakan
Semua hal di dunia ini bagi seorang penyair kehidupan adalah puisi
Aku hanya perlu sedikit ruang sunyi, sejuk bermanik kedamaian
Namun, dari sebuah sudut sempit yang tidak diperhatikan orang lain
Dari situ aku dapat memandang hiruk-pikuk kemunafikan
Sesak nafasku syarat dengan tanya, kenapa

(hed, medio 2007)

Friday, March 23, 2007

Memangnya kenapa


Ketika Hindu atau Budha menyembah berhala,
Ada juga yang menyembah patung Yesus dan Bunda Maria
Dan kita menyebutnya kafir,
Ketika para ustadz dan kyai melapalkan Quran sebagai aji-aji pengusir setan, jin ifrit dan sebagainya
Jua, mereka menanyakan kenapa Kabah disembahnya
Maka dijawabnya:
Itu bukan menyembah, tapi sekedar menghadap katanya,
Alasan yang sama dengan mereka
Karena merekapun hakekatnya melakukan yang sama
Lalu, dimana perbedaannya?
Kita harus pandai-pandai bertanya pada nurani dan akal mestinya
Kita punya Quran yang syarat dengan tafsirannya

Lalu aliran dan banyak aliran bermunculan dimana-mana
Kenapa harus berkiblat kepada aliran…?
Akankah kafir, kufur, bidah dan sejuta istilah kesesatan ditujukan kepada sesama seaqidah?
Meskikah sholat, puasa yang dilakukan, adalah alasannya?
Seakan surga pun mutlak miliknya
Walau tak memahami apa hakekatnya
Nyatanya kedzalimanpun masih merajalela dimana-mana, mungkin termasuk dirinya
Ada sesuatu yang lebih nyata
Bercermin pada alam misalnya
Kenapa musibah demi musibah hadir menjamah bersama kehidupan manusia
Kenapa mereka tak menyadarinya
Alam selalu jadi sasaran gamblang penyebabnya
Manusia memang begitu tabiatnya
Orang bodoh dibilang cerdas, bodoh dibilang pandai
Orang yang benar dan salah tak jelas jadinya

Jika ada yang bertanya kepada kita,

Sholat itu apa dan untuk apa?
Puasa itu bagaimana dan untuk apa?
Zakat itu untuk apa?
Haji itu untuk apa?
Apa untuk mendapatkan syurga?
Dan syurga itu gimana dan dimana?
Apa yang mesti kita jawab,
Dan….. ketika kita tidak bisa menjawabnya
Mestikah ibadah orang lain dicaci-makinya
Seakan surgapun sudah ada dalam genggamannya
Padahal ketika ditanya syurga itu apa
kita tak menjawabnya…

Kalau tidak tahu syurga itu apa
Terlalu naif kita berharap mendapatkannya
Ahh.. mestinya kita tak perlu pula menyalahkan bagaimana mereka
Karena nyatanya kita jua belum benar adanya
Nyatanya kita tidak tahu tujuan kita ke mana akhirnya.

Hidup ibarat benih padi yang ditebar di atas persemaian


Oleh: Hedi Rachdiana
(Dalam renungan)

Ketika musim tanam padi tiba pak tani menyiapkan persemaian dan disiapkanlah segala kebutuhan seperti benih, pengairan yang cukup, dan lain sebagainya. Setelah segala sesuatunya selesai disiapkan, maka pak tani pun mengambil benih padi itu dan genggam demi genggam ditebarkanlah dengan sangat hati-hati ke atas persemaian yang sudah disiapkan.

Namun tak urung dari beberapa genggam benih padi yang ditebar pak tani, ada beberapa butir padi yang terpental tidak tepat jatuh di atas persemaian. Walau itu sesuatu yang tidak diharapkan, pak tani pun tetap membiarkannya, karena sesuatu yang tak mungkin untuk memungutnya satu persatu dan menempatkan benih padi yang terpental itu tepat pada tempatnya.

Selang beberapa waktu kemudian tumbuhlah benih padi itu menjadi kecambah. Selanjutnya, benih yang jatuh tepat di atas persemaian yang sudah disiapkan pak tani, maka benih itu tumbuh dengan suburnya. Lain halnya dengan benih yang terpental tadi, benih itu tumbuh dengan tunas yang kurus dan daunnya yang menguning, tipis harapan baginya akan dipakai pak tani untuk dipindahkan ke lahan sawah.

Mujur sekali nasib benih padi yang jatuh tepat di persemaian pak tani itu, karena setelah dipindahkan ke lahan sawah manapun akhirnya tumbuh subur dan menghasilkan bunga serta butiran padi yang lebat. Namun, tidak demikian dengan benih yang terpental itu, mereka tumbuh kurus layu dan akhirnya mati sebelum dipindahkan.

Demikianlah proses perjalanan hidup manusia, ada yang tumbuh seperti benih yang jatuh tepat di persemaian yang sudah disiapkan hingga tumbuh subur dan menghasilkan karya-karya nyata selama hidupnya, ada pula yang hidup tidak sesuai harapan hingga selalu dalam kepapaan selama proses hidupnya.

Manusia tak pernah bisa menawar harus tumbuh dimana dan dengan cara bagaimana, karena hakekatnya manusia terlahir bukanlah kehendaknya, juga ditebar di atas dunia inipun tak bisa ditolaknya. Manusia dan makhluk lainnya semua hanya ada dalam satu genggamanNYA yaitu Tuhan Yang Maha Pengatur segalanya.

Dunia ini adalah persemaian untuk menuju alam selanjutnya, dan manusia adalah benih yang ditebar untuk menghasilkan karya. Lalu, pernahkah kita berfikir dan mempertanyakan keberadaan diri kita ini, apakah kita termasuk benih yang ditebar tepat jatuh di atas persemaian ataukah sebaliknya.

Kalaulah kita memang termasuk yang beruntung karena terlahir dari sebuah benih dan persemaian yang baik dan benar, lalu syukur apa yang telah kita sampaikan sebelum semuanya terlambat karena akhirnya pak tani pun akan menggarap persemaian itu untuk selanjutnya ditebar lagi benih yang baru.

Dan jika kita nyatanya bukan termasuk yang beruntung, maka bersabarlah karena hal yang sama pak tani itu akhirnya akan menggarap persemaian itu dan menebarkan benih yang baru lainnya. Manusia itu bernasib baik atau tidak akhirnya hanya menuju kepada sebuah tempat dimana hakekatnya manusia itu hidup, yaitu sorga atau neraka. Hidup di dunia ini bukanlah segalanya.

HIDUP MESTINYA BAGAI AIR KECIL JERNIH MENGALIR


Oleh: Hedi Rachdiana

Hidup mestinya ibarat air kecil jernih mengalir, mengalir dari hulu ke hilir dengan lincahnya, dan jangan coba-coba menyumbat aliran air karena ketika menggenang akan menimbulkan bau tak sedap untuk sekitarnya dan mengundang berbagai penyakit, dan ketika kita mempermainkannya, maka air pun terkadang datang bagai amarah bah dan tak ada seorangun yang mampu menahannya.

Hidup dituntut harus bergerak walau tidak sekedar mengejar obsesi semata, tapi memikirkan dan berbuat untuk orang lain. Orang bijak mengatakan : ”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.” (Sayyid Qutb).

Sungguh malang hidup seorang yang tidak punya makna kebaikan bagi orang lain, apalagi jika kehadirannya justru menjadi masalah bagi orang lain, karena itulah rahasia hidup pribadi unggul bahwa sebaik-baiknya kehidupan adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan sejauhmana hidup kita bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain? Memberi solusi bagi orang lain? Atau malah bikin masalah bagi orang lain ibarat air bah?

Air mengalir terus dan terus menuju ke tempat tertentu dan akhirnya bermuara di laut. Hidup seharusnya juga begitu, mempunyai orientasi dan tujuan yang jelas, tidak sekedar mengalir begitu saja. Hidup harus ibarat air, jika terhambat selalu mencari celah mencari jalan keluarnya. Jika air bermuara di laut, maka hidup muaranya adalah kematian. Suka atau tidak saatnya akan tiba. Memanfaatkan waktu adalah solusi agar hidup tidak menjelma bak air bah yang mampu menggilas apapun yang menghambatnya.

Air kecil jernih mengalir selalu memberi kesejukan mata jika dipandang, kesejukan hati jika dirasa, dan selalu dirindukan kehadirannya. Jadilah hidup bagai air kecil jernih mengalir.

Tuesday, July 18, 2006

BERITA KEMARIN DAN HARI INI


Berita lagi, berita lagi
Lebih dahsyat dari berita selebriti
Bencana lagi, bencana lagi
Lebih parah dari bencana korupsi

Derita lagi, derita lagi
Derita datang lagi
Menjemput maut anak negri
Datang dari murka perut bumi

Sedu sedan tangis yang kemarin
Belum lagi henti
Gempa lagi, tsunami lagi
Bencana seakan tak henti

Air mata masih di pipi
Menangisi bencana ini
Air mata kemarin belum lagi kering
Kini air mata ini memang sudah kering

Terkuras tangis menyayat-nyayat hati
Oleh derita kemarin
Tangisku kini telah menembus ulu hati
Bagai ditusuk sembilu, perih, pedih

Saatnya untuk merenung diri
Ku takut gempa dan tsunami akan menimpa diri
Bukankah berita hari ini
Sama dengan berita kemarin

Bak cerita episode berseri
Tangis hari ini adalah tangis kemarin
Derita hari ini jua derita kemarin
Gempa dan tsunami kapankah berakhir?

Ah… tak usahlah aku sedih mengharu biru
Tak usahlah aku bertanya sana-sini
Gempa dan tsunami
Ataukah karena azab Illahi

hed/2006

Tuesday, March 21, 2006

SATU TAMBAH SATU SUDAH PASTI DUA


Para selebritis tertawa dalam setiap membawakan acaranya
tidak butuh lagi undang-undang pornoaksi dan pornograpi katanya
dan stasiun-stasiun TV pun berlomba menyiarkannya
masyarakat belum bisa menerima
alasan pragmatis yang bikin seorang idealis membeliakkan mata

Para kiai lebih senang tinggal di pesantrennya
karena ikut bicara seperti sok alim katanya
sholat lima waktu tak ada henti-hentinya
ketika para kiai ada di gedung DPR tidak sholat pun tidak apa-apa

Kalau para politisi atau eksekutif atau lembaga peradilan ditanya
apakah fungsi agama bagi mereka
kalau mereka jujur menjawabnya
mayoritas kuping pasti merah karenanya

Lho.... kok bisa?
bisa saja
karena kita masih ada di dunia
dimana idealisme dan realita sering berada di ruang berbeda

Lho...apakah pikiran dan tindakan orang-orang bijak tidak sama?
kalau itu jangan ditanya
justru karena bijak mereka tidak bicara apa adanya
atau bisa juga takut kehilangan muka dan pengikut setia

Kau pikir kenapa orang-orang bijak tidak bisa bicara ketika mereka tahu
bahwa orang-orang degil diperbolehkan menguasai dunia…?
Kau pikir kenapa orang-orang jujur lebih memilih mati karena lapar
dan terhujat di sebuah lingkaran turun-temurun kekuasaan …?
Kau pikir kenapa rakyat jelata harus bertanya-tanya,
walau bertanya jua nyatanya tak ada orang yang mau mendengarnya …?

Waduh… waduh…
kenapa menanyakan itu pada saya, malam ini saja,
saya tak tahu harus makan apa biarlah orang berpeci yang ada
di gedung DPR itu yang menjawabnya
biarlah orang-orang yang pakai fasilitas rakyat yang memikirkannya
biarlah para kiai yang siang malam sholat yang mendoakannya
saya hanya orang biasa bagi saya satu tambah satu pasti dua.

Hed2006

Friday, March 17, 2006

IBUNDA


Ibunda # 1

Ibunda, ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Ibunda, jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membalur sekujur tubuh dengan doa-doa. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh goresan, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.

Ibunda, izinkanlah anak-cucunda meraih tempat surga itu, Ibunda adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki semua anak-cucunda, sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.

Ibunda, anak-cucunda selalu rindu akan kasih bunda. Semoga bunda senantiasa ada dalam lindunganNYA.

Ibunda # 2

Ibunda, demi anak-anakmu jemarimu tak pernah henti dengan menyulam kata pinta, membalur sekujur tubuh dengan doa-doa.
Tubuhmu tak menghitung waktu, siang atau malam terus merajut cinta
jua demi anak-anakmu
Hingga akhirnya perjuanganmu usai tak mampu melawan sulitnya menahan rasa sakitmu.

Ibunda, terkulai lemah menahan derita, namun tampak tegar dan bahagia.
Ikhlas memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias di wajah.
Tiada yang berubah sejak saat engkau bugar, hingga takdir itu memisahkannya
Walau engkau tak lagi bersama, namun hadirmu abadi dalam sanubari
memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Ibunda, surgaku ada dalam telapak kakimu
Izinkanlah anak-cucunda meraih tempat surga itu,
Ibunda adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki semua anak-cucunda, sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.

Ibunda, anak-cucunda selalu rindu akan kasih bunda.
Semoga bunda senantiasa ada dalam lindunganNYA.

I B U,


TIBA-TIBA SAJA AKU RINDU MENYEBUT NAMAMU
DAN TANPA TERASA SENGAJA TERUCAP ITU DARI MULUTKU
WALAU LIRIH, TAPI MANIS DAN MASIH
MEMBAUR DENGAN RASA KASIH,
TULUS

TIBA-TIBA SAJA AKU SELALU INGIN MEMANGGILMU
PADA SETIAP TIDURKU, PAGI DAN MALAM
MENYAPAMU DALAM SETIAP DOAKU

IBU, SAAT KESENDIRIAN ITU DATANG MENYERBU
DAN MENGUASAIKU
KALUT,
RESAH RASA HATIKU
KUTAHU ITU BAGIAN YANG HARUS KUTERIMA
LEBURKAN DOSAKU
LUPAKAN SAAT-SAAT AKU ALPA BERSAMAMU
PERKENANKAN AKU KINI MERAIH KASIHMU
DAN MASUK DALAM DEKAPMU

TINGGALAH SERTAKU
DAN HADIRLAH DALAM MIMPIKU
AGAR AKU DAPAT SELALU BERSAMAMU

MAAFKAN AKU, IBU

ANAKMU,

/hed 1984

Hadiah Dari Suatu Kepedulian


Oleh: Hedi Rachdiana
Diceritakan kembali dari dongengan)

Alkisah hiduplah di suatu desa seorang petani yang makmur. Ia juga seorang yang sangat dermawan dan dihormati di desanya, keuletan bertaninya menjadi contoh penduduk desa bahkan terkenal sampai ke desa-desa lainnya. Dari musim-kemusim si petani itu selalu mendapatkan panen yang melimpah.

Namun, pada suatu ketika, secara mengejutkan datanglah musibah karena tikus-tikus menyerang sawah dan ladang-ladang para petani, bahkan merambah sampai ke sawah dan ladang-ladang para penduduk desa di sekitarnya.

Sang petani dan para penduduk desa serentak mencari gagasan untuk mengatasi wabah tikus ini agar tidak berlarut-larut, setidaknya untuk mencegah agar tidak menyebabkan kegagalan panen pada musim panen berikutnya. Dari gagasan yang disarankan ke penduduk desa, maka diputuskanlah agar masing-masing petani membuat perangkap tikus.

Sementara setiap hari penduduk desa disibukkan oleh pekerjaannya membuat perangkap tikus dan memasangnya di sawah dan ladang-ladang, maka didengarlah beritanya oleh para tikus, sehingga membuat geger di kalangan para tikus karena hal itu akan mengancam keselamatannya.

Untuk itu, segeralah para tikus mengutus tetuanya agar diatur rembugan antar para tikus, maka bicaralah tetua tikus itu kepada para tikus lainnya; “Wahai segenap para tikus, ketahuilah bahwa kelangsungan hidup kita saat ini sedang terancam, karena para petani sedang memasang perangkap-perangkap untuk kita semua. Oleh karena itu, barang siapa dapat memberikan jalan keluar dari kesulitan kita ini, maka aku tetua kalian akan memberikan hadiah”.

Tiba-tiba muncullah seekor tikus cerdik memberikan gagasan, ia minta kepada tetua agar terlebih dulu minta saran kepada binatang-binatang lainnya sebagai bentuk solidaritas kebinatangan.

Dari usul yang diajukan tikus cerdik itu, maka diputuskanlah oleh tetua tikus pertama-tama untuk minta pendapatnya kepada ayam, karena ia berpikir para ayamlah yang pertama kali sering kena perangkap-perangkap yang dilakukan oleh para petani, mereka berharap ada kepedulian bersama merasakan senasib dan sepenanggungan.

Lalu, menghadaplah tetua tikus beserta rombongannya kepada para ayam menyampaikan maksud dan tujuannya,
“Wahai saudara sebinatang!, maksud kedatangan kami tidak lain dan tidak bukan mewakili saudara-saudara kami lainnya untuk menyampaikan permohonan, kiranya tuan-tuan bisa membantu kami mengatasi perangkap-perangkap yang dilakukan oleh para petani, demikian… kiranya tuan-tuan sudi membantu kami!”, tetua tikus menyampaikan maksudnya.

Kok..kok..tekok, serempak dengan angkuhnya para ayam itu menjawab “Hai…tikus!… perangkap-perangkap itu kan dibuat penduduk desa buat kalian!, kenapa minta tolong ke kami!?, atasi saja dengan cara kalian”. Para ayam bersikap tak acuh.

Dengan tangan hampa para tikus itu kembali dan segera mencari solusi lain. Dan dilakukanlah rembugan lagi, dimana hasilnya segera agar minta tolong ke binatang lainnya, yang juga seringkali terkena dampak perangkap para petani, dengan harapan ada kepedulian senasib dan sepenanggungan.

“Maaf tetua… bagaimana kalau kita minta tolong ke kambing!?”, sang tikus yang cerdik menyampaikan gagasan ke tetuanya. “Baiklah… akan kita coba!”, tetua tikus dengan arifnya menerima gagasan itu.

Dengan tergesa-gesa tetua tikus dan rombongannya pergi untuk menemuai para kambing, maka disampaikanlah apa yang menjadi maksud dan tujuannya. “Wahai …para kambing yang baik, maksud kedatangan kami untuk minta tolong bagaimana caranya mengatasi perangkap yang dibuat para petani itu?”.

Namun apa yang terjadi!….para tikus mendapatkan kenyataan yang sama seperti ketika menghadap para ayam sebelumnya, bahkan para tikus mendapatkan cemoohan. Para kambing berdalih bahwa tidak ada kepentingan dengan perangkap-perangkap yang dibuat para petani yang sebenarnya dibuat untuk para tikus itu.

“Mbek…lha…lha… kalian salah alamat, kalian mestinya tidak datang ke kami, kami tidak ada kepentingan dengan perangkap-perangkap itu!”
“Namun…bukankah kalian juga sering terkena perangkap-perangkap yang dibuat para petani itu!?”. para tikus penasaran.
“Mbek…mbek… lebih baik kalian minta tolong saja kepada binatang yang lain, mbek… mbek…” para kambing serentak angkat bicara kepada para tikus.

Saat itu hampir saja rombongan para tikus itu putus asa, kalau saja tidak mengingat bahwa mereka juga mengemban tugas dari para tikus lainnya untuk menyampaikan amanah kepada para kambing itu. Mereka merasa telah gagal untuk kedua-kalinya, gagal mengemban misinya padahal mereka begitu dipercaya. Di atas pundaknyalah mereka menggantungkan harapan keselamatannya.

“Kita tidak boleh putus asa!”. Bagaimanapun kita ini orang-orang eh…(salah menyebut dirinya) tikus-tikus yang dipercaya oleh semua para tikus, kita harus mencoba lagi!, kita harus bertekad!”. Tetua tikus memberi semangat kepada rombongannya.

Berkumpullah kembali para tikus, seekor tikus yang cerdik dengan hati-hati karena takut gagasannya tidak didengar lagi karena gagasannya sebelumnya selalu gagal bicara; “Maaf tetua… bagaimana kalau kita minta tolong untuk yang terakhir kalinya ke sapi!?”. “Baiklah… akan kita coba!”, tetua tikus dengan sabar dan arif menerima gagasan sang tikus cerdik itu.

Bergegas mereka pergi menyampaikan harapannya ke sapi, siapa tahu sang sapi dengan badannya yang besar, gagah dan kuat bisa membantu kesulitan yang dihadapi para tikus.

Rupanya badan yang besar dan gagah itu cuman tampak penampilannya saja, karena iapun tidak peduli dengan kesulitan yang dihadapi para tikus. Bahkan karena ia merasa badannya besar dan kuat ia berkeyakinanan tidak mungkin akan terkena perangkap-perangkap tikus itu.

“Hmm… aku sudah tahu maksud kedatanganmu wahai para tikus, kalian juga sebelumnya telah datang ke ayam dan kambing, bukan?!, hmm…hmm”. Sang sapi bicara ke para tikus tanpa menolehnya.

Sang sapi merasa tikus-tikus itu bukanlah apa-apanya, bahkan para sapi merasa bahwa mereka adalah kesayangan para petani bahkan para penduduk desa umumnya. “Tidak mungkin para petani menyakitinya. Bukankah para petani membutuhkan tenaganya dan penduduk desa umumnya membutuhkan susu para sapi?”. Mereka meyakinkah dirinya.

Untuk ketigakalinya para tikus mengalami kegagalan. Mereka merasa inilah nasib buruknya. Tak ada jalan lain baginya, kecuali pasrah, karena segala usaha telah dilakukannya.

Pada suatu hari, berduyun-duyunlah para petani memeriksa perangkap-perangkap tikus yang telah dipasangnya, dipimpin langsung oleh sang petani itu. Dan ia pula yang pertama memeriksa perangkapnya.

Namun, apa yang terjadi, ketika tangan sang petani itu mengangkat perangkapnya, tiba-tiba sang petani menjerit kesakitan “tolong…! tolong…!, tanganku… tanganku…”.

Serentak para petani lainnya bergegas menghampiri sang petani itu dan segera memeriksa gerangan apa yang terjadi. Rupanya ketika sang petani mengangkat perangkapnya, tangannya secara tiba-tiba dipatuk ular berbisa sehingga dengan cepat tangannya membengkak dan membiru.

Para petani menghentikan memeriksa perangkap-perangkapnya untuk segera menolong sang petani itu, dan membawa ke rumahnya untuk segera mengobatinya. Dan gemparlah para petani dan penduduk desa karena sang petani yang menjadi panutannya terkena musibah dipatuk ular berbisa dan tampaknya kondisinya cukup kritis.

Selama dalam pengobatan tak henti-hentinya ia didatangi para penduduk desa untuk menjenguknya, mereka selalu mendoakan agar sang petani segera sembuh dan sehat kembali. Maklum bahwa sang petani juga sangat perhatian terhadap sesamanya. Mereka berharap sang petani dapat meneruskan perjuangannya membasmi para tikus yang semakin meraja-lela, bahkan terdengar ada sebagian penduduk yang sudah menderita kelaparan karenanya.

Bersyukur sang petani itu akhirnya sembuh. Lalu diumumkanlah oleh para tetangganya bahwa sang petani sudah sembuh. Dan berduyun-duyunlah orang-orang mendatangi rumah sang petani sekedar untuk memberi ucapan selamat. Mereka sangat bersyukur sang petani selamat dan sehat kembali.

Tak henti-hentinya setiap hari rumah sang petani itu ramai dikunjungi oleh orang-orang disekitarnya, karena sangat dihormati dan dikenal maka penduduk desa tetangganyapun berdatangan untuk sekedar mengucapkan selamat atas keselamatan dan kesehatan sang petani itu.

Sang petani adalah seorang dermawan, ia seorang yang sangat baik, ia tidak mau mengecewakan tamu-tamunya, ia ingin menghormati tamu-tamunya sekaligus sebagai ucapan syukur karena ia juga bisa selamat atas syariat pertolongan sahabat-sahabat petaninya.

Untuk itu diadakanlah sambutan, hari pertama penyambutan tamu-tamunya, atas kesepakatan dengan istrinya sang petani memotong banyak ayam sebagai jamuan tamu-tamunya, maka dipotonglah ayam-ayam yang diketahui ayam-ayam itu adalah ayam-ayam yang pernah diminta tolong oleh para tikus beberapa waktu yang lalu. Dan disantaplah daging ayam beramai-ramai oleh para petani dan para penduduk desa lainnya menjadi santapan yang lezat.

Hari kedua, karena tamu-tamunya semakin banyak saja dan pemotongan ayam dirasakan belum cukup, maka dipotonglah kambing. Konon, kambing-kambing itu diketahui adalah kambing-kambing yang pernah diminta tolong oleh para tikus. Dan kambing-kambing itupun satu-persatu dipotong untuk penyambutan sebagai rasa syukurnya.

Hari ketiga, sebagai puncak acara maka para sahabat sang petani dan para petani lainnya secara gotong royong menyumbang agar dilakukan pemotongan sapi, maka dipotonglah sapi dan sapi-sapi itu pun konon adalah sapi-sapi yang juga pernah diminta tolong oleh para tikus itu. Sapi-sapi itupun menjadi santapan penduduk desa, bahkan sebagian dibuat dendeng oleh penduduk desa itu.

Maka binasalah sang ayam, sang kambing, maupun sang sapi-sapi itu, sementara tikus-tikus yang peduli mengajak keselamatan kepada binatang-binatang lainnya itu selamat, dan merekapun sedang berpesta menikmati sisa tulang-tulang ayam, tulang-tulang kambing serta tulang-tulang sapi sisa makanan para petani dan penduduk desa itu.

Apa Daya


Terlampau banyak problem kehidupan yang menjerat,
Kemiskinan bukan lagi monopoli di kolong-kolong jembatan,
Sekarang telah merambah ke sebagian besar masyarakat kita,
Suka atau tidak suka esok atau lusa siapa tahu giliran kita

Kemiskinan mestinya adalah sebuah produk ketololan,
Orang bilang negara kaya minyak seolah dapat kutukan,
Negara kita contohnya, provinsi kaya minyak justru paling melarat,
Jika demikian entah apa yang ada dalam benak kita

Kita nyatanya bukan cuma miskin harta,
Tapi kita juga miskin ilmu dasar pikiran lurus dalam hal filsafat dan logika,
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal menjadi manusia,
Karena tidak diajarkan beretika dan tidak diajar dasar ilmu hakekat kehidupan

Masa depan kita jadi remang-remang,
Kita ingin marah, tapi marah sama siapa,
Kita kesal terhadap masa depan, tapi harus mengadu sama siapa,
Akankah akhirnya… berbuah masa bodoh dan santai saja

Renungan


Saatnya aku mengajukan sebuah pertanyaan
Bukankah aku dimulai dari tiada
Atas kehendakNya aku menjadi ada
dan, entah esok atau lusa kembali menjadi tiada
Terbayang masa-masa yang lalu
Ketika semuanya menjadi terasa indah
Memang tidak semua masa lalu dirasakan sama
kadang ceria, walau ada jua yang kecewa
Akhirnya, tak terasa perjalanan hidup ini begitu cepat
dan, dalam perjalanannya pernahkah aku bertanya:
Kenapa perjalanan hidup ini rasanya baru sesaat saja
hingga aku telah menjadi dewasa dan tua
atau, mestinya aku bertanya:
Mungkinkah hidup yang aku jalani ini hanyalah proses belaka
Sebuah proses yang tak ada bedanya dengan mahluk lainnya
Apalah artinya aku ini menjadi manusia
Bukankah pepohonan dan rumputan atau binatang melatapun
mereka juga sama menjalankan proses
Proses dari tiada, menjadi ada
dan akhirnya juga menjadi kembali tiada
Sesungguhnya, apa yang telah kulakukan
Gerangan apa jika aku ini sebagai manusia
Akankah hidup sekedar makan tidur dan berketurunan
Bukankah aku adalah manusia
yang mestinya semua terukur dengan waktu
dan, waktu adalah sesuatu yang pasti
Akankah aku mampu mewarnai perjalanan hidup ini
Meskikah masa laluku adalah sejarah yang tak pernah kupahami
Dan, akankah langkah yang mesti kuraih jua merupakan misteri